Aku memanggilnya papa, ya…dia papaku yang seharian bekerja membanting tulang demi menafkahi keluarganya, Seseorang yang bertanggung jawab, rajin, pekerja keras, jujur. Dialah Pahlawanku.
Kisah hidupnya sangat memprihatinkan. Saat papaku lahir beberapa bulan dia sudah kehilangan ibu untuk selamanya mengadap Bapa di Sorga. Ketika remaja dia tinggal bersama kakak perempuannya dan kasih sayang dari seorang ibu tak pernah ia rasakan.
Pekerjaan di dalam rumahtanggapun dilakoninya. Tidak ada masa anak-anak baginya, dia tidak bermain layaknya anak-anak seusianya. Untuk semua itu membentuk papa menjadi sosok yang keras karena kerasnya kehidupan yang dijalani.
Sejak muda hingga menikah papaku sering sakit-sakitan mungkin karena terlalu banyak bekerja tetapi papa tak pernah mengeluh. Dia sangat otoriter, apa yang papa katakan harus dituruti tak bisa bilang tidak.
Kami didik sangat keras dengan nasehat sampai kepada rotan, sampai masih duduk dibangku kuliahpun aku masih kena rotan, Tetapi pada saat jumpa dengan Tuhan Yesus, aku tak pernah dipukuli lagi malah aku yang selalu menjadi penasehat papa, mama dan 5 saudaraku. ”Begitu Dahsyat Tuhan Itu”.
Di atas meja makan papa selalu menasehati kami akan makna hidup, menjadi seorang manusia yang jujur dan rajin bekerja. Pendidikan kami di sekolah sangat menjadi perhatian papa. Huruf demi huruf dan angaka demi angka diajari papa hingga aku dapat membaca dan berhitung. Setiap pekerjaan rumah dari sekolah tak pernah dilewatkan oleh papa walaupun lelah sepulang dari bekerja dari pagi sampai malam masih menyempatkan waktunya untuk anak-anaknya.
Ketika datangnya pagi kami dbangunkan dari tidur sampai menyiapkan segelas teh hangat yang disajikan bersama kue dari dagangan bpk serabi dan mamaku selalu sibuk ditiap pagi membersihkan rumah.dan halaman.
Dulu aku adalah anak yang belum mengerti arti dan kerasnya hidup sampai ketika aku menikah setiap nasehat dan perkataan yang keluar dari mulut papaku ketika aku dipukuli, Semuanya kucerna menjadi makanan hidupku sungguh sepatutnya kubanggakan papaku sosok Bapa yang adalah wakil Allah didunia ini.
Tanggal 17 Maret 2010, Papaku di panggil pulang oleh bapa di Surga, Hidup ini serasa hampa , aku sangat terpukul dengan kepergian papa, papa yang kuhormati dan sangat kusayangi pergi untuk selamanya dan tak akan pernah kembali lagi.
Seakan tak percaya aku sudah kehilangan papa tapi dia selalu hidup dalam hatiku walaupun kerasnya hidup saat-saat bersamanya. Sebelum papa pergi dalam kesakitannya aku selalu berdoa padanya hingga teman-teman pelayanku pun turut melayani dan menopangnya di dalam doa sehingga secara pribadi menerima dan mengaku Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juru’slamat.
Sampai kepada suatu hari di rumah sakit, sore itu kata papa, papa sudah harus pergi Tuhan Yesus sudah panggil papa tapi Dia masih memperhitungkan doaku, papaku memohon agar dia bisa beristirahat karena sudah sangat lelah, dengan berat hati aku berdoa jadilah Tuhan kehendakMU atas hidup papaku setelah itu selang satu hari kami tergesa-gesa ke rumah sakit kulihat papaku sudah tidak berdaya,
Papa, papa, papa, ku memanggilnya dia hanya dapat menjawab dengan lemah aahhh, aaah…. Sampai akhirnya ia pergi untuk selamanya dan air mata ini menjadi saksi perpisahan kami.
Setelah kematian papa beberapa bulan lamanya kakak laki-laki papa dari Negara Cina berkunjung ke Ambon dan menyempatkan diri ke makamnya papa. Suatu malam aku duduk bersamanya sembari ia memberi nasehat kepadaku dan bercerita: setahun yang lalu saat saya kesini bertemu dengan cong itulah sapaan untuk papaku, Cong banyak bercerita tentang istreri dan anak-anaknya, ada satu anak yang selalu dia sebutkan yang selama ini dia banggakan yaitu kamu yang bisa mengangkat wajah papa dan kata kakak laki-laki papa.
Sekarang anak yang paling saya sayang adalah kamu karena walaupun papa sudah tidak ada kamu masih bisa melihat saya katanya. Mendengar semua itu akupun menangis sebab selama ini aku tak pernah mendengar dari mulut papa , selama ini yang kutau apapun yang baik yang pernah kubuat tak pernah diperhitungkan oleh papa.
Inilah sebuah kenangan indah yang akan selalu kuingat hari- hari hidupku bersama papa. semua nasehatnya mengiring langkahku, merangkai hidup bahwa hidup ini terus berjalan sampai pada akhirnya kita akan berjumpa kembali di rumah Bapa di Sorga. Aku percaya kepada Tuhan, Dia yang memberikan Dia pula yang mengambil terpujilah Nama Tuhan.


Recent Comments